Memperdalam (ilmu) Agama, bukan berarti meninggalkan (ilmu) dunia

Posted by Irwan ibnu syam Label:

Memperdalam (ilmu) Agama, bukan berarti meninggalkan (ilmu) dunia
Oleh : Irwan Saputra
Allah akan meninggikan derajat orang-orang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (QS.Al Mujadalah:11)


ilmu adalah standart kredibelitas dari setiap manusia yang hidup di dunia ini. Setiap orang pastilah akan lebih mendengarkan perkataan seseorang yang di kenal ‘alim/ilmuwan dari pada perkataan seseorang yang tidak di kenal sebagai seorang yang ‘alim, walaupun pernyataan si ‘alim itu adalah pendapat yang salah dan sebaliknya pendapat orang yang tidak ‘alim itu lebih benar. Dan itulah realita yang ada dalam kehidupan ini. Oleh karena itu rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim”. (Shahihul Jami’ 3913)

Yang di maksud adalah ilmu syar’i. Karena sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa kebanyakan manusia akan taqlid (berpedoman) pada seseorang yang di anggapnya kredibel dalam ilmu islam (ustadz, kyiai, da’i-da’i dll). Padahal sikap taqlidnya itu dapat menyebabkan ia tersesat dalam keadaan tidak sadar (akan keadaanya yang tesesat). Karena rasulullah salallahu’alaihi wasallam telah berkata akan munculnya da’i-da’i fitnah yang mengajak pada kesesatan.

Dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu Anhu berkata :
“Manusia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang
keburukan karena khawatir jangan-jangan menimpaku. Maka aku bertanya ;
Wahai Rasulullah, sebelumnya kita berada di zaman Jahiliyah dan
keburukan, kemudian Allah mendatangkan kebaikan ini. Apakah setelah ini
ada keburukan ? Beliau bersabda : 'Ada'. Aku bertanya : Apakah setelah
keburukan itu akan datang kebaikan ?. Beliau bersabda : Ya, akan tetapi
didalamnya ada dakhanun. Aku bertanya : Apakah dakhanun itu ?. Beliau
menjawab : Suatu kaum yang mensunnahkan selain sunnahku dan memberi
petunjuk dengan selain petunjukku. Jika engkau menemui mereka maka
ingkarilah. Aku bertanya : Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan ?.
Beliau bersabda : Ya, da'i - da'i yang mengajak ke pintu Jahannam.
Barangsiapa yang mengijabahinya, maka akan dilemparkan ke dalamnya. Aku
bertanya : Wahai Rasulullah, berikan ciri-ciri mereka kepadaku. Beliau
bersabda : Mereka mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan
bahasa kita. Aku bertanya : Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika
aku menemuinya ?. Beliau bersabda : Berpegang teguhlah pada Jama'ah
Muslimin dan imamnya. Aku bertanya : Bagaimana jika tidak ada jama'ah
maupun imamnya ? Beliau bersabda : Hindarilah semua firqah itu,
walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan
engkau dalam keadaan seperti itu". [Riwayat Bukhari VI615-616, XIII/35.
Muslim XII/135-238 Baghawi dalam Syarh Sunnah XV/14. Ibnu Majah no.
3979, 3981. Hakim IV/432. Abu Dawud no. 4244-4247.Baghawi XV/8-10.
Ahmad V/386-387 dan hal. 403-404, 406 dan hal. 391-399].

Oleh karena itu bagi tiap muslim di wajibkan untuk memperdalam ilmu agama, agar dirinya terselamatkan dari da’i-da’i fitnah tersebut.Namun sangat di sayangkan, salahnya persepsi sebahagian manusia membuat mereka merasa takut dan enggan untuk memperdalam ilmu agama. terutama di kalangan para pelajar yang sedang tersibukan dalam urusan pelajaran yang ada di sekolah atau kampusnya.

Kekhawatiran akan melemahnya pemahaman tentang ilmu dunia jika memperdalam ilmu agama.

Padahal ulama’-ulama’ islam itu tidak hanya orang-orang yang berkompeten dalam hal agama saja, namun sangat banyak ulama’-ulama’ islam yang memperdalam ilmu agama namun memiliki kelebihan lain dalam ilmu duniawi. Sebut saja Abu ali al-husein ibnu Abdullah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ibnu sina (375H), yaitu seorang muslim yang terkenal akan keilmuanya dalam hal kedokteran juga dalam ilmu yang lainya. Bukunya Al Qanun fil Tabib telah diterbitkan diRoma pada tahun 1593 sebelum di alih bahasakan ke dalam bahasa Inggeris dengan judul Precepts of Medicine. Dalam jangka masa tidak sampai 100 tahun, buku itu telah dicetak ke dalam 15 buah bahasa. Pada abad ke-17, buku tersebut telah dijadikan sebagai bahan rujukan asas diuniversitas-universitas Itali dan Perancis. Malahan sehingga abad ke-19, bukunya masih dicetak ulang dan digunakan oleh para pelajar perobatan. Kemudian Ibnul Qayyim Al-jauziah (691H) adalah seorang ulama’ yang dikenal keahlianya dalam ilmu hadits, tafsir,sejarah islam, dll. Namun siapa sangka bahwa beliau juga memiliki kefahaman lebih dalam hal ekonomi Islam dan Ibn Qayyim banyak membincangkan konsep kekayaan dan kemiskinan, ekonomi dan zakat, konsep faedah, riba al-fadi dan riba al-nasiiah, dan mekanisme pemasaran. Dan sangat banyak lagi ulama’-ulama’ islam yang terkenal atas kefaqihanya, namun juga menguasai ilmu di luar islam.

Dan perlu diketahui bahwa Islam itu adalah luas, dan ilmu islam mencakup apa yang ada di langit dan bumi karena dunia ini adalah milik Sembahan orang-orang muslim. Bahkan ada banyak ayat-ayat di dalam Al-Qur’an dan hadits yang menjelaskan tentang ilmu kehidupan di dunia ini.

Kekhawatiran akan hilangnya akal sehat

Banyaknya kesalah fahaman seseorang tentang pengertian ilmu islam (syari’at) juga membuat mereka takut untuk memperdalam ilmu agama. Sebagaimana pendapat sebagian orang bahwa yang di maksud ilmu islam itu adalah jika kita mampu menguasai ilmu mulai dari Syari’at, hakikat, tariqat dan ma’rifat. Yang di mana jika seseorang yang memiliki jiwa yang lemah akan menjadi suluk (hilang akal sehat). Padahal ini bukanlah ilmu yang di ajarkan islam, bahkan tidak di kenal di zaman rasulullah dan para sahabat radiallahu’anhu. Akan tetapi ilmu ini adalah ilmu dari sebagian firqah-firqah sesat yang ada pada islam dan menjadi hal yang sangat mahsyur di bumi Indonesia ini.

Al-imam Asy-syafi’I berkata :
“Seandainya seseorang bertasawuf pada pagi hari, maka siang sebelum zhuhur ia menjadi orang yang dungu.” dan Dia (Imam Syafi’i) juga pernah berkata: “Tidaklah seseorang menekuni tasawuf selama 40 hari, lalu akal nya (masih bisa) kembali normal selamanya.” (Lihat Talbis Iblis, hal 371).

Jadi ajaran-ajaran islam yang demikian tidaklah pernah di ajarkan oleh nabi salallahu’alaihi wasallam dan para sahabat maupun ulama’ penerusnya. Dan tidak pernah pula islam mengajarkan untuk memperdalam ilmu tentang sifat-sifat Allah (yang di kenal dengan sifat 20) hingga hilang akal sehat kita. Karena ilmu Islam adalah ilmu yang Haq, jadi tidak mungkin terdapat mudharat atau efek samping dari memperdalam ilmu islam seperti yang di pelajari sebagian muslim.

Oleh sebab itu, tetaplah memperdalam ilmu agama karena kita tidak akan menjumpai kemudharatan dari hal tersebut, tidak pula mengurangi pemahaman akan ilmu dunia apalagi akan mengurangi akal sehat.

"Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya, orang berilmu, dan orang yang mempelajari ilmu.'" [Hadits hasan: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2322), Ibnu Majah (no. 4112)]

Al ‘ilmu indallahu…

0 komentar:

Posting Komentar