“indahnya hidup dalam keterasingan”
Oleh : Irwan Saputra
“Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula dalam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang yang terasing.” (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma).
Oleh : Irwan Saputra
indahnya hidup dalam keterasingan..
walau kadang ghibah-ghibah itu mngguncang jiwa, namun asa yang telah terlapis dengan keyakinan yang menghujam..
membuat bara api di telapak tangan, terasa sejuk saat di genggam…
walau kadang ghibah-ghibah itu mngguncang jiwa, namun asa yang telah terlapis dengan keyakinan yang menghujam..
membuat bara api di telapak tangan, terasa sejuk saat di genggam…
andaikata landasan jalan ini hanya rasa semangat seperti yang mreka miliki, maka sudah lama hati ini luput atas keistiqamahanya..
namun jalan ini berlandaskan ilmu...
dan tak ada satu fitnah pun melainkan Allah telah menyediakan bantahanya atas kalamNYA dan perkataan nabiNYA..
namun jalan ini berlandaskan ilmu...
dan tak ada satu fitnah pun melainkan Allah telah menyediakan bantahanya atas kalamNYA dan perkataan nabiNYA..
berat mungkin terasa, saat harus membiasakan diri dalam keterasingan...
akan tetapi ketika ayat-ayat itu terlintas dalam benak, maka… rasa sabar dapat menahan gejolak hawa,
bagai embun yang sejuk...
jika hati yang memiliki semangat telah basah dengan ilmu...
oleh karen itu, ilmu jauh lebih bermanfaat dari pada hanya sekedar semangat..
karena semangat yang tak berlandaskan ilmu, buah kerusakan pastilah lebih besar dari pada perbaikan yang di usahakan.
akan tetapi ketika ayat-ayat itu terlintas dalam benak, maka… rasa sabar dapat menahan gejolak hawa,
bagai embun yang sejuk...
jika hati yang memiliki semangat telah basah dengan ilmu...
oleh karen itu, ilmu jauh lebih bermanfaat dari pada hanya sekedar semangat..
karena semangat yang tak berlandaskan ilmu, buah kerusakan pastilah lebih besar dari pada perbaikan yang di usahakan.
“Katakanlah; Inilah jalanku. Aku mengajak (kamu) kepada Allah di atas bashirah/ilmu. Inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku. Dan maha suci Allah, aku bukan termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)
Tidakah ayat-ayat yang indah itu telah cukup sebagai penghibur duka??
Bahkan Tuhanku terus menghibur atas hari yang telah di janjikanNya…
Biarlah saat ini, jiwa terasing atas hinaan mereka..
Namun pasti hari itu akan datang, sedang pandangan haru akan indahnya tempat kembali..
Saat itu.. ghibah, gunjingan dan hinaan mereka akan terasa manis saat terkenang..
Walau kadang batin ini juga tersentak… dan bisikan hampa dari sudut hati berkata, “ahh.. apa tidak seharusnya aku tinggalkan jalan yang sunyi ini?? Agar dapat bergembira bersama mereka, bercanda dan bermusik ria…”. Memang benar kaki tetap berpijak pada dalam lingkaran suci Islam, akan tapi jalan dari mereka yang telah menang atas kesabaran, dan yang telah menjadikan gunjingan itu terasa manis atas keistiqamahan… pastilah langkah ini akan terlepas dari darinya…
tapi ada satu hal yang sangat menguatkan hati untuk terjaga di bawah naungan keterasingan ini…
yaitu senyuman semangat dari saudara-saudara seakidah.. yang bahkan jika bayangan dari senyuman itu terlintas dalam benak, maka sungguh tak tersadarkan bahwa diri ini adalah orang asing di bumi Allah…
sungguh.. gunjingan-gunjingan hina mereka tidak sedikitpun menghinakan hati dari siapa saja yang telah merasakan manisnya hidup di atas bashirah (ilmu) ini,
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:
“Tidak tercela bagi siapa saja yang menampakkan manhaj salaf, berintisab dan bersandar kepadanya, bahkan yang demikian itu disepakati wajib diterima, karena manhaj salaf pasti benar.” (Majmu’ Fatawa, 4/149).
Beliau juga berkata:
“Bahkan syi’ar Ahlul Bid’ah adalah meninggalkan manhaj salaf.” (Majmu’ Fatawa, 4/155).
Al Imam Abdurrahman bin ‘Amr Al Auza’i berkata:
“Wajib bagimu untuk mengikuti jejak salaf walaupun banyak orang menolakmu, dan hati-hatilah dari pemahaman/pendapat tokoh-tokoh itu walaupun mereka mengemasnya untukmu dengan kata-kata (yang indah).” (Asy Syari’ah, karya Al Imam Al Ajurri, hal. 63).
Dan sekali lagi batin ini mempertegas…. “indahnya hidup dalam keterasingan”



0 komentar:
Posting Komentar